CALIFORNIA - Perusahaan jasa keuangan, Raymond James, melakukan survei untuk mengetahui ketertarikan konsumen terhadap smartphone. Diketahui 33 persen responden tidak keberatan jika harus membayar USD100 atau sekira Rp1 juta lebih mahal daripada harga iPhone 5S untuk iPhone dengan layar lebih besar.
Data survei ini diungkapkan oleh Tavis McCourt dari Raymond James. Ia menggabungkan tanggapan dari 500 orang di Amerika Serikat (AS) dari 13-17 Maret, dengan kesimpulan bahwa pangsa pasar Apple tetap stabil.
Selain itu, ketertarikan konsumen terhadap smartphone Apple juga masih tinggi. "Persentase responden survei yang memiliki iPhone turun kuartal per kuartal dari 56 persen pada Desember menjadi 52,3 persen. Tapi naik 49,4 persen dari setahun yang lalu," ungkap McCourt, seperti dilansir Softpedia, Jumat (28/3/2014).
Pangsa pasar Apple yang akan tetap stabil ditunjukkan dengan 49,7 persen responden berniat untuk membeli iPhone untuk smartphone terbaru mereka.
Sementara itu, sejumlah rumor beredar mengungkapkan bahwa jika Apple meluncurkan iPhone dengan layar lebih besar daripada saat ini, maka harganya akan turut naik, terutama karena biaya produksi. Hasilnya, 33 persen pengguna iPhone bersedia membayar USD100 lebih banyak untuk iPhone 'jumbo'. Persentase ini naik dari 26 persen pada survei terdahulu.
"Dengan spekulais bahwa iPhone 6 akan memiliki layar lebih besar, maka akan menarik untuk melihat pilihan harga Apple. Selain itu, 6 persen pengguna Android di survei kami tertarik dengan layar besar iPhone. Hal ini menunjukkan bahwa layar lebih besar bisa meningkatkan tingkat upgrade bagi Apple, tapi tidak terhadap keuangan basis pelanggan," jelas McCourt.
Hasil lain survei ini adalah kurang dari 3 persen pengguna smartphone berniat membeli ponsel Windows Phone dan kurang dari 1 persen ingin membeli BlackBerry.

No comments: